Demi merayakan berakhirnya tahun yang melelahkan ini, saya iseng menyusun senarai musik favorit saya sepanjang 2008. Ternyata bukan perkara mudah, mengingat-ingat siapa saja yang paling sering saya dengar setahun belakangan. Akhirnya, setelah cukup lama memeras benak, 10 album meloncat keluar dari sekian puluh giga lagu yang berjejal di hard disk saya.
Urut dari yang paling rapat saya putar:
01. Crafty Hands – Happy the Man
Album kedua dari Happy the Man, band progresif eklektik asal Amerika Serikat yang digawangi keyboardis - saxophonis-flutis Frank Wyatt dan gitaris-vokalis Stanley Whitaker. Dikategorikan sebagai “eklektik” karena merupakan kawin silang pelbagai cara dan gaya bermusik dari masing-masing personelnya. Selajur dengan band gado-gado macam King Crimson dan Van Der Graaf Generator.
Delapan tembang di album keluaran 1978 ini, seperti pada album pertama yang self-titled, didominasi instrumentalia. Akar mereka teteup rock tapi dengan sentuhan jazzy, meski bukan fusion/jazz rock (halah! susah banget ya jelasinnya…). Setelah Crafty dirilis, band ini bubar. Salah satu alumninya, juru kibor Kit Watkins lalu bergabung dengan Camel dan ikut membidani album legendaris Nude.
Jika ingin mendengarkan musik progresif yang skillful namun sekaligus nyaman (baca: santai dan nggak njlimet) di telinga, saya merekomendasikan Crafty Hands.
02. Forse Le Lucciole Non Si Amano Piu – Locanda delle Fate
Meminjam istilahnya Mas Agus Sunandar, album ini keren bangeettt… he-he-he. Nggak bisa cerita yang lain lagi. Soalnya sudah pernah saya bahas di postingan tentang progrock lama Italia tiga bulan lalu.
Dari sedikit koleksi musik berbahasa Italia yang saya miliki, ini yang terbaik.
03. Stati di Immaginazione – Premiata Forneria Marconi
Another Italiano. Bungsu dari PFM. Rilisan 2006. Sesuai dengan tajuknya yang kalau di-Jawa-kan berarti “State of Immagination”, hanya lagu instrumental yang terangkai. Pas dengan konsepnya. Karena yang namanya angan-angan memang lebih tepat untuk dibayangkan, alih-alih dibicarakan.
Stati adalah album yang ambisius. Begitu pendapat saya. Setidaknya jika dilihat dari makna atau kisah yang coba diurai pada kedelapan lagunya. Lagu pembuka, La terra dell’acqua misalnya, berkhayal seandainya daratan yang kita pijak saat ini seluruhnya tersusun dari air. Tengok juga Il sogno di Leonardo (The Dream of Leonardo), yang boleh dibilang merupakan upaya abstrak mereka melukis kembali seabrek impiannya Da Vinci. Balutan gitar akustik yang dipadu dengan piano dan flute seolah mengapungkan kembali romantisisme renaisans. Atau simak Visioni di Archimede yang meminjam mata si perumus hukum Archimedes dalam meneropong kondisi bumi terkini. Semua, digulirkan tanpa sekalipun mulut terucap. Lho, terus saya kok bisa cerita ini-itu? Nuwun sewu, ini tafsiran suka-suka. Menyesuaikan konteks lah… he-he-he.
Saya suka album ini karena saya merasa serupa dengan penggagasnya: pemimpi.
04. De-Loused in the Comatorium – The Mars Volta
Eriatarka membuat saya pengin jatuh dari kursi. Benar-benar jatuh. Sampai kaki kursi kayu yang saya duduki, patah. Sampai punggung—asal bukan kepala—membentur lantai. Imbas lanjutan dari Roulette Dares yang menggedor adrenalin. Puncaknya, Cicatriz ESP menghasut saya untuk merusak perabot kamar.
Saya tak ragu untuk menyebut bahwa debut rekam The Mars Volta ini adalah album yang emosional, dan liar. Aslinya, konsep album ini berakar dari tewasnya sohib Cedric Bixler-Zavala (sang vokalis), Julio Venegas, gara-gara overdosis. Kisah tragis yang lalu difiksikan dalam sudut penuturan orang pertama tentang tipisnya hidup di ujung drugs. Ketika sang lakon koma, dia harus bertarung dengan sisi setan yang bersemayam dalam dirinya sendiri. Saat akhirnya sadar, si protagonis memilih bunuh diri demi mengakhiri derita hidup.
Intisari De-Loused adalah rasa kehilangan (seseorang) yang diteriakkan dengan cara paling ekstrem. Bukan semata melalui lirik, tapi justru terutama pada penjelajahan musikalnya. Dipimpin Omar Rodriguez-Lopez, band sempalan At the Drive-In ini mencampur baur progresif rock dengan elemen jazz, punk, dan etnik Latin. Pembenturan yang potensial bikin kepala pening. Album konsep yang harus dipuja karenanya. FYI, dua pentolan RHCP ikutan nongol di sini. Flea mengisi bass di sembilan dari sepuluh lagu yang ada, dan John Frusciante menyumbang “tangan” plus suara latar di lagu Cicatriz ESP.
Harus masuk 10 besar album favorit saya sepanjang masa.
05. Blackfield II – Blackfield
Siapa?
Duet antara Steven Wilson, pentolan band heavy progressive Inggris Porcupine Tree, dengan musisi Israel Aviv Geffen.
Kenapa bagus?
Musiknya… liriknya… Dalam, menyayat, sekaligus tegar.
Nukilan terbagus:
One thousand people smile, they're smiling at me… but I wanna die in this moment, I wanna die… (Lagu kedua, 1.000 people)
06. Ocean – Eloy
Dosis: 1x seminggu, tiap akhir pekan, sebelum tidur.
Manjur untuk: mengingat hari kehancuran bumi 6 ribu tahun lagi. Menurut gerombolan si berat asal Jerman ini, kiamat di bumi akan terjadi pada 5 Juni 8498, jam 1 siang.
Anjuran setelah pemakaian: penyimakan album ini harus disambung dengan pe-nonton-an film-film futuristik macam Blade Runner, Gattaca, atau The Matrix Revolution. Kalau nggak, kabut halusinasinya bakal memudar.
Kontraindikasi: jangan diputar di dekat pendengar yang alergi terhadap sci-fi.
07. Jabrik – Edane
Majalah Rolling Stone Indonesia beberapa waktu lalu meluncurkan daftar 150 album Indonesia terbaik. Debut album Edane, The Beast (1992), termasuk salah satunya. Saya turut mengamini hasil penjurian ini. Meski begitu, rekaman Edane yang paling saya suka justru album mereka berikutnya, Jabrik.
Saya mendengarnya pertama kali waktu SMP. Buah dari provokasi kakak ipar saya yang penggemar berat E’et Syachranie. Hingga kini, album keluaran 1994 ini masih selalu mampu menghentak kuping saya. Jika The Beast lebih melodius, maka Jabrik lebih ‘langsung dan menghajar’. Pergantian vokalis dari Ecky Lamoh ke Heri Batara, yang warna suaranya lebih garang, membantu pemalihan karakter itu. Dua lagu pembuka, Wake of the Storm dan Jungle Beat, sangat pas untuk menendang dan meraungkan gairah. Bahkan lagu yang aslinya meradang seperti Victim of the Strife juga masih terdengar gagah.
Album dahsyat terakhir Edane sebelum mereka bermetamorfosis menjadi lebih “ngAC/DC” di era 2000-an.
Note: Masih jadi rekaman Indonesia paling agresif yang pernah saya dengar.
08. And Then There Were Three - Genesis
Tahun1977 Steve Hackett keluar dari Genesis, menyusul kepergian Peter Gabriel dua tahun sebelumnya. Maka dimulailah era “Genesis nge-pop”. And Then… (1978) inilah yang menandai titik awal pembelokan arah musik raja progrock 70-an ini. Dengan hanya bertiga: Phil Collins, Mike Rutherford, dan Tony Banks, rasa Genesis memang jadi lain. Berkurang “rumit”-nya. Tak lagi teatrikal di panggung. Lebih santun.
Kesantunan yang mungkin membuat penikmat musik (terutama yang beginner) lalu punya persepsi salah terhadap Genesis: bahwa band asal Surrey, Inggris, yang telah menjual 150 juta kopi album di separuh dunia ini adalah band pop. Apalagi kalau dikaitkan dengan citra Phil belasan tahun kemudian, yang groovy kind of lover itu.
And Then… saya putar lagi dan lagi sebagai pengingat: Genesis ya Genesis, tetap berkelas meski sudah berubah jadi ‘empuk’.
Sekilas seperti: Genesis minus Gabriel dan Hackett. J
09. Schoolyard Ghosts – No-Man
Lagi-lagi proyek sampingan dari Steven Wilson. Bedanya, No-Man pekat dengan bau psychedelic.
Lagu-lagunya yang nelangsa, mengingatkan saya pada detik-detik Haley Joel Osment menjumpai hantu di lorong sekolahnya di The Sixth Sense.
Pernah nonton film The Invisible? Coba cari dan tonton. Tapi sebelumnya, dengerin Schoolyard Ghosts dulu.
10. Rajaz – Camel 
Album yang dimaksudkan sebagai penutup rangkaian karir panjang Camel. Pada kenyataannya, Andrew Latimer dkk kemudian ingkar dengan merilis satu album lagi, A Nod and a Wink tahun 2002. Jika anda mengikuti perkembangan Camel dari album pertama, mungkin anda akan setuju dengan saya: Rajaz bagi Camel nyaris seperti The Division Bell bagi Pink Floyd. Buat saya pribadi, Bell hanya bisa dikalahin Dark Side of the Moon. Jadi…
Efek berantai setelah mendengar album keluaran 1999 ini:
Hi-lite: track penutup, Lawrence.
Film yang harus ditonton: Lawrence of Arabia
Buku yang harus dibaca: Sejarah Hidup Muhammad karya M. Husain Haekal
Orang yang harus dikenang: Mbak Camelia? Hehehe… Elderly woman behind the counter in a small town… one, two, three, four… I seem to recognize… (sing it aloud, people)
Selamat tahun baru 2009!