Sabtu, 21 Februari 2009

Dr. Strangelove


Setelah sekian lama, akhirnya terpenuhi juga hasrat menyimak film keluaran 1964 ini. Dulu, baru baca judulnya saja saya sudah sangat penasaran: “Dr. Strangelove Or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb”. Kini tuntas sudah. Komedi satir bernuansa hitam putih ini jadi yang ke-10 dalam daftar besutan Stanley Kubrick yang pernah saya tonton.

Beberapa adegan membuat saya tergelak. Lucu, tapi sinis.

Peter Sellers, pemeran Inspektur Closseau yang bebal nan mujur di sekian judul Pink Panthers—yang sepertinya jadi cetak biru film-film Warkop DKI—bermain gemilang di sini. Jauh sebelum Mike Myers sukses memerani empat karakter berbeda pada Austin Powers in Goldmember, Sellers sudah mendahuluinya. Dan, meski sama-sama komedi, perannya lebih serius dibanding citraan-citraan konyol Myers. Ia memborong tiga watak sekaligus: wakil duta besar Inggris Capt. Lionel Mandrake, Presiden Amerika Merkin Muffley, dan si jenius gila Dr. Strangelove.

Diangkat dari novel Red Alert karya Peter George, kisah ini memparodikan isu perang dingin antara AS dan Uni Soviet. Saat Presiden AS tengah bermasalah dengan Rusia, seorang jendral edan bawahannya, Jack D. Ripper (nama-nya saja sudah bermasalah ya? ) berencana melenyapkan Uni Soviet dengan bom nuklir. Dari situ, bergulir intisari ceritanya.

Tema cold war mungkin sudah basi. Tapi jika dilihat dari topik teknologi nuklir yang marak dewasa ini, film ini masih terasa ‘hangat’. Juga tentang paranoia berlebihan. Seperti Bush dan kroni-kroninya yang meributkan kembangbiak nuklir Ahmadinejad dkk di Iran. Perlukah?

Jumat, 06 Februari 2009

Yang Tidak Sekolah Dilarang Baca

Ini tulisan nggak penting. Saya menaruhnya di sini semata untuk mengurangi kesan tak terawat dari kebun ini. Biar nggak sepi, gitu. Hehehe…

Menunggu, kata sebagian orang, itu menjemukan. Kalau tidak menjengkelkan. Begitu pula bagi saya. Tiap bulan, saya punya jadwal tetap dua kali mengantar ayah saya berobat ke rumah sakit. Tak jarang saya harus menunggui hingga pemeriksaan selesai. Selama menanti, sudah tentu, kantuk dan bosan acap mendera. Di lain kesempatan, saya pernah terjebak hujan tak enak di perjalanan. Gara-gara lupa membawa mantel ‘anti-air’, saya terpaksa berteduh. Malam hari, di emperan toko yang sudah tutup, sendirian. Berjam-jam pula. Kala itu, saya merasa jadi manusia paling kesepian no.1 di Indonesia.

Sejak itu, saya ke mana-mana nyaris selalu membawa buku. Bukan pengin terlihat pintar. Bukan sok terpelajar. Tapi demi membunuh jemu, jika sewaktu-waktu berhadapan dengan kondisi menunggu dan tak ada kawan bicara, dengan melakukan hal yang saya suka: membaca.

[A]

Sebulan lalu, saya meminta surat keterangan bebas narkoba di Polwil Surakarta. Karena pelayanannya hari itu seperti kura-kura—mesin cetaknya lagi mogok padahal pengantrinya banyak—saya segera menarik-membuka bekal buku dari tas. Dalam sekejap saya sudah tenggelam ke samudera aksaranya. Saat kemudian mengambil jeda, menutup buku sejenak dan melihat sekeliling, seorang ‘tetangga’ berbasa-basi menanyakan guna surat yang saya mintakan. Sama seperti jenengan, jawab saya, buat melamar kerja.

Hening.

“Jadi, sekarang sampeyan nyambi kuliah di mana?” selidiknya.

Lhadalah, ini orang pertanyaannya aneh sekali. Mimpi apa dia semalam sampai seyakin itu. Saya langsung menukas, “Wah, saya sudah nggak sekolah, mas.”

“Ooo…” Dia lalu bungkam, tapi matanya melirik tak puas. Barulah saya tanggap. Di tangan saya masih tergenggam buku. Wuo… batin saya, jadi ini penyebabnya. Tapi saya ragu dia sanggup membaca judulnya yang panjang dan terlalu kecil jika dilihat dari tempat duduknya: Pola struktural dan teknik bangunan di Indonesia; Suatu pendekatan arsitektur Indonesia melalui pattern language secara konstruktif dengan contoh arsitektur Jawa Tengah. Di bawahnya terimbuh nama sang penulis, Heinz Frick.

Meski buku ini memang lebih ditujukan pada kalangan mahasiswa, sejatinya ia rangkuman dari naskah disertasi Heinz Frick di TU Eindhoven pada 1995. Ia membedah-urai arsitektur nusantara, meski secara ringkas, dari embrionya di jaman neolitik hingga yang masih tersisa saat ini. Ia mengupas Rumah Jawa (Tengah) mulai dari patokan dan ukuran tradisional, struktur peruangan, pokok material, sampai ke bagian metafisisnya—penentuan pintu masuk berdasar primbon, pemilihan waktu pembangunan menurut pranata mangsa, dan sebagainya. Singkat kata, buku ini, walau mungil tipis, sangat layak jadi rujukan bagi siapapun yang berminat pada ranah arsitektur anak negeri, utamanya Jawa Tengah.

Tapi tahu apa si Mas penanya soal pengajar Unika Soegijapranata Semarang kelahiran Swiss itu? Lha wong yang pernah berguru di sekolah arsitektur saja belum tentu kenal (seperti saya dulu, hehehe…), apalagi dia yang, menurut pengakuannya sendiri, sama sekali tak punya sejarah persinggungan dengan ilmu rancang bangun. Dan apa dia tahu pula buku mana yang biasa dijamah mahasiswa arsitektur, buku mana yang tidak?

Dugaan saya, berani bertaruh Inter tak akan scudetto musim ini, saya dikira masih kuliah hanya gara-gara saya baca buku! Bukan karena dia tahu persis bahwa buku yang saya ulik khusus untuk mahasiswa. Fiuhh

Jadi hanya anak kuliahan yang boleh baca buku?

[B]

Empat minggu kemudian, saya lagi-lagi harus menjejak kantor kepolisian. Kali ini di Boyolali. Saya diminta menemani kakak perempuan saya yang sedang mengajukan permohonan SIM. Berstatus pengantar, dengan sendirinya, saya kembali dipaksa mencumbui perkara tunggu-menunggu.

Alhasil, begitu Mbakyu saya mulai menjalani ujian tulis, dan lalu praktek, saya langsung mengendus ruang untuk leyeh-leyeh. Sebatang pohon tua rindang di pelataran dengan empat bangku kayu panjang di bawahnya, memancing langkah saya. Namun label besar “SMOKING AREA” terpancang di situ; saya jadi ragu. Untungnya di antara bapak-bapak yang duduk berdempetan di dua bangku, tak satupun yang mengepulkan asap rokok. Saya bergegas ke bangku kosong, dan langsung menyandarkan punggung. ‘Perlengkapan tempur’ tak lupa saya siagakan: bacaan.

Yang saya akrabi pada kesempatan itu, Arsitektur untuk Kemanusiaan-nya Galih Widjil Pangarsa. Serangkum telaah atas karya-karya arsitek dan perupa instalasi Eko Prawoto—teman sekelas Pak Galih dulu di UGM, sesama murid Y.B. Mangunwijaya.

Sedang asyik-asyiknya meresapi buah pengalaman Pak Eko di Berlage Institute Amsterdam, seorang polisi yang lewat tiba-tiba menyapa ramah. “Sinau neng kono yo oleh, mas (Belajar di sana juga dibolehkan, mas)”, katanya seraya menunjuk ke selasar tempat tunggu pengantri SIM yang lebih terang—waktu itu langit mendung. Anjurannya saya balas dengan senyum dan ucapan terima kasih. Saya bergeming. Saya pilih di luar, yang longgar, dan dinaungi dedaunan akasia yang teduh.

Cuma, senyum saya terasa agak kecut. Ada yang janggal dalam kalimat anjuran itu. Alih-alih memakai kata ‘maca’ (membaca), ia memilih ‘sinau’ (belajar). Belajar memang bisa dari mana saja. Bisa dari bacaan, tv, film, atau curhat sahabat; daftarnya bisa diperpanjang. Atau dengan kata lain, dari mendengar, dari melihat, dari merasa. Membaca termasuk salah satu caranya.

Tapi ini lain. Orang Jawa biasa memakai kata ‘maca’ di kalimat, misalnya, “Aku maca koran”, atau “Aku maca buku”. Sementara kata ‘sinau’ hanya lumrah pada ungkapan “Aku sinau buku”, namun jarang sekali yang berujar “Aku sinau koran”. Kecuali jika dikembangkan menjadi “Aku nyinauni (mempelajari/belajar dari) koran”.

Maksud saya, ‘sinau’ dalam kosakata Jawa telah menyempit maknanya. Ia tak lagi dimaknai sebagai belajar dalam pengertian luas, tapi lebih pada belajar dalam konteks studi.

Tanpa berniat (mengutip istilahnya Thukul) anderistimit pada bapak polisi yang terhormat itu, saya yakin yang dia maksud dengan ‘sinau’ adalah “belajar karena sebentar lagi ada ujian di sekolah, atau membuka referensi karena banyak tugas yang besok mesti dikumpul di kampus.”

Jika betul demikian, maka, sinau dari Hongkong...

Niat saya kan cuma mengisi waktu luang, akibat menunggu, dengan kegiatan yang berguna, maca. Dari dua kasus praduga tak berdasar di atas, ijinkan saya membual, tercoret sketsa kondisi masyarakat kita saat ini: membaca belum menjadi kebutuhan. Ketika seseorang berkutat dengan buku di tempat umum, bukan sebatas dengan suratkabar harian atau tabloid gosip, ia tampak seperti alien. Seolah perkara baca-membaca hanya milik kaum yang berafiliasi dengan kampus atau sekolah. Yang tidak sekolah tak usah baca. Padahal, ketika Mohammad Hatta diasingkan ke Boven Digoel pada 1935, harta paling berharga yang beliau bawa serta berupa 16 kotak buku. Usianya ketika itu sudah 33 tahun, dan statusnya bukan dosen, apalagi pelajar. Kata para arif, Bapak Bangsa adalah teladan kita semua. Nah!

Demi mengakhiri karangan yang menjemukan ini, saya lalu mengembangkan teori kenapa selalu dianggap masih ‘bau kampus’:

[1] Karena baca buku, maka saya disangka mahasiswa*

[2] Karena (masih seperti) mahasiswa, maka itu artinya tampang saya awet muda (alhamdulillah, panjang umur…)

Kesimpulannya: saya paling setuju premis terakhir, ha-ha-ha.

-------

*mahasiswa undergraduate, bukan yang postgraduate

Rabu, 31 Desember 2008

In Hearing of Myself

Demi merayakan berakhirnya tahun yang melelahkan ini, saya iseng menyusun senarai musik favorit saya sepanjang 2008. Ternyata bukan perkara mudah, mengingat-ingat siapa saja yang paling sering saya dengar setahun belakangan. Akhirnya, setelah cukup lama memeras benak, 10 album meloncat keluar dari sekian puluh giga lagu yang berjejal di hard disk saya.

Urut dari yang paling rapat saya putar:

01. Crafty Hands – Happy the Man

Album kedua dari Happy the Man, band progresif eklektik asal Amerika Serikat yang digawangi keyboardis - saxophonis-flutis Frank Wyatt dan gitaris-vokalis Stanley Whitaker. Dikategorikan sebagai “eklektik” karena merupakan kawin silang pelbagai cara dan gaya bermusik dari masing-masing personelnya. Selajur dengan band gado-gado macam King Crimson dan Van Der Graaf Generator.

Delapan tembang di album keluaran 1978 ini, seperti pada album pertama yang self-titled, didominasi instrumentalia. Akar mereka teteup rock tapi dengan sentuhan jazzy, meski bukan fusion/jazz rock (halah! susah banget ya jelasinnya…). Setelah Crafty dirilis, band ini bubar. Salah satu alumninya, juru kibor Kit Watkins lalu bergabung dengan Camel dan ikut membidani album legendaris Nude.

Jika ingin mendengarkan musik progresif yang skillful namun sekaligus nyaman (baca: santai dan nggak njlimet) di telinga, saya merekomendasikan Crafty Hands.

02. Forse Le Lucciole Non Si Amano Piu – Locanda delle Fate

Meminjam istilahnya Mas Agus Sunandar, album ini keren bangeettt… he-he-he. Nggak bisa cerita yang lain lagi. Soalnya sudah pernah saya bahas di postingan tentang progrock lama Italia tiga bulan lalu.

Dari sedikit koleksi musik berbahasa Italia yang saya miliki, ini yang terbaik.

03. Stati di Immaginazione – Premiata Forneria Marconi

Another Italiano. Bungsu dari PFM. Rilisan 2006. Sesuai dengan tajuknya yang kalau di-Jawa-kan berarti “State of Immagination”, hanya lagu instrumental yang terangkai. Pas dengan konsepnya. Karena yang namanya angan-angan memang lebih tepat untuk dibayangkan, alih-alih dibicarakan.

Stati adalah album yang ambisius. Begitu pendapat saya. Setidaknya jika dilihat dari makna atau kisah yang coba diurai pada kedelapan lagunya. Lagu pembuka, La terra dell’acqua misalnya, berkhayal seandainya daratan yang kita pijak saat ini seluruhnya tersusun dari air. Tengok juga Il sogno di Leonardo (The Dream of Leonardo), yang boleh dibilang merupakan upaya abstrak mereka melukis kembali seabrek impiannya Da Vinci. Balutan gitar akustik yang dipadu dengan piano dan flute seolah mengapungkan kembali romantisisme renaisans. Atau simak Visioni di Archimede yang meminjam mata si perumus hukum Archimedes dalam meneropong kondisi bumi terkini. Semua, digulirkan tanpa sekalipun mulut terucap. Lho, terus saya kok bisa cerita ini-itu? Nuwun sewu, ini tafsiran suka-suka. Menyesuaikan konteks lah… he-he-he.

Saya suka album ini karena saya merasa serupa dengan penggagasnya: pemimpi.

04. De-Loused in the Comatorium – The Mars Volta

Eriatarka membuat saya pengin jatuh dari kursi. Benar-benar jatuh. Sampai kaki kursi kayu yang saya duduki, patah. Sampai punggung—asal bukan kepala—membentur lantai. Imbas lanjutan dari Roulette Dares yang menggedor adrenalin. Puncaknya, Cicatriz ESP menghasut saya untuk merusak perabot kamar.

Saya tak ragu untuk menyebut bahwa debut rekam The Mars Volta ini adalah album yang emosional, dan liar. Aslinya, konsep album ini berakar dari tewasnya sohib Cedric Bixler-Zavala (sang vokalis), Julio Venegas, gara-gara overdosis. Kisah tragis yang lalu difiksikan dalam sudut penuturan orang pertama tentang tipisnya hidup di ujung drugs. Ketika sang lakon koma, dia harus bertarung dengan sisi setan yang bersemayam dalam dirinya sendiri. Saat akhirnya sadar, si protagonis memilih bunuh diri demi mengakhiri derita hidup.

Intisari De-Loused adalah rasa kehilangan (seseorang) yang diteriakkan dengan cara paling ekstrem. Bukan semata melalui lirik, tapi justru terutama pada penjelajahan musikalnya. Dipimpin Omar Rodriguez-Lopez, band sempalan At the Drive-In ini mencampur baur progresif rock dengan elemen jazz, punk, dan etnik Latin. Pembenturan yang potensial bikin kepala pening. Album konsep yang harus dipuja karenanya. FYI, dua pentolan RHCP ikutan nongol di sini. Flea mengisi bass di sembilan dari sepuluh lagu yang ada, dan John Frusciante menyumbang “tangan” plus suara latar di lagu Cicatriz ESP.

Harus masuk 10 besar album favorit saya sepanjang masa.

05. Blackfield II – Blackfield

Siapa?
Duet antara Steven Wilson, pentolan band heavy progressive Inggris Porcupine Tree, dengan musisi Israel Aviv Geffen.

Kenapa bagus?
Musiknya… liriknya… Dalam, menyayat, sekaligus tegar.

Nukilan terbagus:
One thousand people smile, they're smiling at me… but I wanna die in this moment, I wanna die…
(Lagu kedua, 1.000 people)

06. Ocean – Eloy

Dosis: 1x seminggu, tiap akhir pekan, sebelum tidur.

Manjur untuk: mengingat hari kehancuran bumi 6 ribu tahun lagi. Menurut gerombolan si berat asal Jerman ini, kiamat di bumi akan terjadi pada 5 Juni 8498, jam 1 siang.

Anjuran setelah pemakaian: penyimakan album ini harus disambung dengan pe-nonton-an film-film futuristik macam Blade Runner, Gattaca, atau The Matrix Revolution. Kalau nggak, kabut halusinasinya bakal memudar.

Kontraindikasi: jangan diputar di dekat pendengar yang alergi terhadap sci-fi.

07. Jabrik – Edane

Majalah Rolling Stone Indonesia beberapa waktu lalu meluncurkan daftar 150 album Indonesia terbaik. Debut album Edane, The Beast (1992), termasuk salah satunya. Saya turut mengamini hasil penjurian ini. Meski begitu, rekaman Edane yang paling saya suka justru album mereka berikutnya, Jabrik.

Saya mendengarnya pertama kali waktu SMP. Buah dari provokasi kakak ipar saya yang penggemar berat E’et Syachranie. Hingga kini, album keluaran 1994 ini masih selalu mampu menghentak kuping saya. Jika The Beast lebih melodius, maka Jabrik lebih ‘langsung dan menghajar’. Pergantian vokalis dari Ecky Lamoh ke Heri Batara, yang warna suaranya lebih garang, membantu pemalihan karakter itu. Dua lagu pembuka, Wake of the Storm dan Jungle Beat, sangat pas untuk menendang dan meraungkan gairah. Bahkan lagu yang aslinya meradang seperti Victim of the Strife juga masih terdengar gagah.

Album dahsyat terakhir Edane sebelum mereka bermetamorfosis menjadi lebih “ngAC/DC” di era 2000-an.

Note: Masih jadi rekaman Indonesia paling agresif yang pernah saya dengar.

08. And Then There Were Three - Genesis

Tahun1977 Steve Hackett keluar dari Genesis, menyusul kepergian Peter Gabriel dua tahun sebelumnya. Maka dimulailah era “Genesis nge-pop”. And Then… (1978) inilah yang menandai titik awal pembelokan arah musik raja progrock 70-an ini. Dengan hanya bertiga: Phil Collins, Mike Rutherford, dan Tony Banks, rasa Genesis memang jadi lain. Berkurang “rumit”-nya. Tak lagi teatrikal di panggung. Lebih santun.

Kesantunan yang mungkin membuat penikmat musik (terutama yang beginner) lalu punya persepsi salah terhadap Genesis: bahwa band asal Surrey, Inggris, yang telah menjual 150 juta kopi album di separuh dunia ini adalah band pop. Apalagi kalau dikaitkan dengan citra Phil belasan tahun kemudian, yang groovy kind of lover itu.

And Then… saya putar lagi dan lagi sebagai pengingat: Genesis ya Genesis, tetap berkelas meski sudah berubah jadi ‘empuk’.

Sekilas seperti: Genesis minus Gabriel dan Hackett. J

09. Schoolyard Ghosts – No-Man

Lagi-lagi proyek sampingan dari Steven Wilson. Bedanya, No-Man pekat dengan bau psychedelic.

Lagu-lagunya yang nelangsa, mengingatkan saya pada detik-detik Haley Joel Osment menjumpai hantu di lorong sekolahnya di The Sixth Sense.

Pernah nonton film The Invisible? Coba cari dan tonton. Tapi sebelumnya, dengerin Schoolyard Ghosts dulu.

10. Rajaz – Camel
Album yang dimaksudkan sebagai penutup rangkaian karir panjang Camel. Pada kenyataannya, A
ndrew Latimer dkk kemudian ingkar dengan merilis satu album lagi, A Nod and a Wink tahun 2002. Jika anda mengikuti perkembangan Camel dari album pertama, mungkin anda akan setuju dengan saya: Rajaz bagi Camel nyaris seperti The Division Bell bagi Pink Floyd. Buat saya pribadi, Bell hanya bisa dikalahin Dark Side of the Moon. Jadi…

Efek berantai setelah mendengar album keluaran 1999 ini:
Hi-lite
: track penutup, Lawrence.
Film yang harus ditonton
: Lawrence of Arabia
Buku yang harus dibaca
: Sejarah Hidup Muhammad karya M. Husain Haekal
Orang yang harus dikenang:
Mbak Camelia? Hehehe… Elderly woman behind the counter in a small town… one, two, three, four… I seem to recognize… (sing it aloud, people)

Selamat tahun baru 2009!


Minggu, 14 Desember 2008

Hujan

"Hujan... seperti air mata yang mengalir dari hatiku".
(Attilio De Giovanni, La Tigre e La Neve)

Saya menyukai hujan. Ada keasyikan tersendiri kala mengamatinya. Dari balik jendela kaca ruang keluarga atau kamar tamu. Dari teras belakang. Dari pintu dapur. Menyenangkan, sebab ia merenda sepi dan mencipta jarak. Tak balas mengumpat meski saya memakinya. Pendengar yang baik untuk beragam gumaman. Teman berdebat dalam diam. Ia turun untuk menggaris batas privasi dengan tetangga, dengan orang luar yang tidak ingin saya temui saat saya ingin mojok, menyendiri, baca buku, menikmati musik atau sekadar ngopi. Ia mengerti saya.

Hujan adalah berkah yang tak semestinya disumpah serapahi. Apalagi kalau cuma gara-gara jemuran yang tak kunjung kering. Soal banjir atau longsor, itu lain perkara.

Curahkan cairmu! Tumpahkan dinginmu! Jangan biarkan pekat terus menggulung di matamu, Sayang. Rupakan segala sensasimu. Genangan yang mewajah tanah. Riuh kerikil terpanah air. Jutaan titik yang mengarsir langit. Sebelum pelangi tersapu binar.

Akhir pekan kemarin seorang sahabat perempuan saya menikah. Sabtu ikrar dan esoknya resepsi. Undangan mengharuskan saya datang. Di Bojonegoro, Jawa Timur. Pasangannya kakak kelas kami waktu kuliah arsitektur dulu. Kawan saya juga.

Semula, saya bersama beberapa Solonisti berniat berangkat semobil. Tapi menjelang hari-h, si empunya mobil berhalangan. Akhirnya rencana itu pun terburai pecah. Hingga tinggal tersisa dua orang, termasuk saya, yang masih kukuh untuk berangkat. Tak ada mobil, motor pun jadi. Cuaca bukan halangan.

Sabtu pagi, telpon saya melengking. Sepasang teman dari Jakarta ternyata sudah mendarat di Solo—tanpa direncanakan. Salah satunya, si penelpon, mengajak berangkat bareng via bus. Namun kami tak sepakat. Dua alasan membulatkan gagasan untuk menepis ajakan tersebut:
[1] Membantu kawan saya yang sedang mengencangkan ikat pinggang. Motor jelas lebih irit dibanding kendaraan pengangkut lain.
[2] Saya alergi terhadap bus antarkota—benda terburuk yang pernah tercipta dalam sejarah peradaban manusia.

Berboncengan, kami menunggang Ringkik Turangga, motor Honda 160 cc jagoan saya. (Konyol sebetulnya pemanggilan ini. Tapi kalau hanya dinamai Turangga saja, nanti disangka kereta api. Nggak ah. Jadi… dengerin The Beast-nya Edane. Ada lagu berjudul serupa di sana, hehe.) Dengan cerdas, kami memilih pukul setengah empat sore sebagai waktu keberangkatan. Pilihan yang tepat di musim penghujan. Dan benar saja. Baru menyentuh kilometer kesepuluh, langit menyalak galak. Fluida angkasa bermuntahan. Sial, batin saya, ini bahkan belum sampai Sragen. Padahal tiga kabupaten mesti dilangkahi. Lintas propinsi pula. Duh…

Bojonegoro. Tujuh malam. Depan hotel. Basah. Kamar kosong. Dikunci. Akad nikah di tempat lain. Keleleran di warung tenda. Masih basah. Ngungsi ke warnet. Sembilan seperempat. Balik ke hotel. Mengeringkan diri.

Minggu. Barca-Madrid 2-0. Cari kaos kaki. Mandi. Baju rapi. Standing party. Berpose. Selamat. Makanan hangat. AC/DC.

Kawan dua: Istriku hamil dua bulan.
Kawan tiga: Aku sekolah lagi di UGM.
Kawan empat: Kenalin, ini calon suamiku.
Kawan tujuh: Kapan kamu nyusul???

Hotel. Pulang. Mendung.

Baru sepenggalah lari dari Bojonegoro, hujan kembali menyergap. Kali ini bahkan lebih kejam daripada sehari sebelumnya. Mantel pelindung tak menolong. Air bahkan sampai menembak pipi. Tapi kami terlalu gagah untuk sekadar berteduh. Jadilah basah kuyup mengiringi jalan. Sempat diselingi istirahat sejenak di Ngawi, guna membuang air tubuh yang harus dibuang & bertukar tempat duduk, kami lanjut memancal gas. Alhasil, sesampai di Solo, bokong saya panas bukan main. Jari-jari kesemutan. Punggung juga pegal karena terlalu lama duduk melengkung. Kumpulan dera hasil 150 km dihajar hujan hampir tanpa henti.

Dan setelah berhasil menurunkan teman di tempat kosnya, hukuman belum juga berakhir: masih ada 12 km tambahan menuju rumah di bawah ketatnya curah air! Maka, saat lutut menggigil selama rute penghabisan, terbayang jelas adegan Gwyneth Paltrow mengancam bosnya di Iron Man, “Don’t ever, ever, ever tell me to do that again…

14 Desember kemarin, yang saya tahu, bermakna ragam bagi tiga orang. Buat pasangan arsitek kawan saya itu = hari terindah dalam hidup mereka. Untuk saya = hari hujan teranjing sepanjang hayat.

Senin, 24 November 2008

Mereka Yang Dilumpuhkan

Rentetan kata berikut ditulis lebih dari setengah abad lalu. Terselip di lembar pengantar novel tua Pramoedya Ananta Toer. Sangat menginspirasi sekaligus mempermalukanku, yang masih terlalu pengecut.

Sanjak Liar


Kami telah mual
bau bangkai kata-kata,
memoles bingkai-bingkai tua
dari cermin omong kosong.

Kami mau:
jantung hidup,
darah merah,
dendang lantang
pukulan nadi
yang menderas napas,
kian keras, hingga balapan
dengan tanggapan
otak dan hati,
otak dan hati sendiri.

Kami benci keindahan kuda pingitan
yang licin bulunya dan putih,
hidup dari persediaan.

Kami ingin:
kuda liar di tengah padang,
yang deras melepas mau hatinya,
biar tertarung, biar patah, biar mati,
berani menjuang nasib,
merebut kemujuran
dalam sanggup bangkit kembali,
dengan tenaga sendiri,
untuk turun-naik gunung... berlari,
masuk keluar lembah... berdiri,
mendesak ke cakrawala
dengan kemauan yang mendidih,
haus baru, lapar baru,
bebas memilih hidup atau mati,
mana suka: Jiwa pelopor.

Taslim Ali

(Kutipan dari kata pengantar Mereka Yang Dilumpuhkan, 1951)